Kamis, 21 November 2013

Tentang Iman

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
hai teman smua kali ini aku mempostingan tugas kuliah yang kemarin (10 november 2013) diperdebatkan dalam ruang perkuliahan dan dilanjutkan di dunia maya. semoga bisa bermanfaat. but, maaf alasannya tdk dpt menampilkan tulisan alqurannya hehehe... selamat mebaca!

IMAN PADA QADHA QADAR DAN NASIB MASA DEPAN
Oleh
Betwan
betwan.betty@ymail.com
Pendahuluan
            Iman kepada qadha dan qadar atau yang kebanyakan orang mengenalnya dengan istilah takdir, selalu menjadi perdebatan publik. Tak sedikit perdebatan ataupun pertanyaan-pertanyaan yang muncul saat masalah ini diangkat dalam suatu diskusi. Bagi umat Islam, takdir merupakan bagian dari aqidah karena hal ini berhubungan dengan iman pada qadha dan qadar yang merupakan kata yang berasal dari qadar (ukuran). Pemahaman akan takdir ini menentukan arah dan sikap seorang muslim terhadap berbagai hal yang terjadi selama hidupnya.
            Beriman kepada qadha dan qadar Allah  adalah rukun keenam dalam rukun iman. Sebagaimana tersebut dalam jawaban Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril As. tentang iman, beliau bersabda, yang artinya: “Engkau beriman kepada Allah , para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar-Nya, yang baik maupun yang buruk.” (HR. Al-Bukhari 1/19-20, dan Muslim 1/37)[1]
            Makna beriman kepada qadar ialah membenarkan dengan sesungguhnya bahwa yang terjadi, baik dan buruk,  itu adalah atas qadha dan qadar Allah . Seperti firman-Nya,
Artiya: Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (lauh mahfuz) sebelum kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah.”(Q.S. Al-Hadid: 22)[2]
Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia sebelum diciptakan, Allah  telah menentukan ketetapan-ketetapan bagi makhluk-Nya dalam  lauh mahfudz. Segala yang terjadi pada alam dan manusia, yang baik maupun yang buruk, semua itu sudah ditakdirkan oleh Allah . Tugas manusia adalah berusaha dan berikhtiar atas usahanya.
Hal ini juga diperjelas dengan hadits shahih dari hadits arba’in an nawawiah bagian keempat tentang siklus penciptaan manusia dan misteri nasib bahwa,
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra. mengatakan, Rasulullah , beliau adalah sosok yang jujur dalam menyampaikan berita, beliau menceritakan kepada kami, “Masing-masing kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama 40 hari sebagai segumpal mani,kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian malaikat diutus padanya dan ia ditiupkan roh, dan ia diperintahkan perihal empat, untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara ataukah bahagia. Demi zat yang tiada sesembahan yang lain selain Dia, sungguh salah seorang di antara kalian ada yang tercatat mengamalkan amalan penghuni surga, sehingga tidak ada jarak antara dia dan surga melainkan hanya sehasta. Lantas takdir mendahuluinya sehingga ia mengamalkan amalan penghuni neraka dan ia memasukinya. Dan sungguh di antara kalian ada yang melakukan amalan penghuni neraka hingga tak ada jarak antara dirinya dan neraka melainkan hanya sehasta. Lantas takdir mendahuluinya dan ia pun mengamalkan amalan penghuni surga dan ia memasukinya.” (Bukhari 3208 dan Muslim 2643)[3]

Sejak dalam rahim ibu, manusia telah dituliskan empat hal akan nasibnya, yakni rezeki, ajal, amal, dan bahgia ataukah sengsara. Hal itu sudah dituliskan oleh Allah  , manusia tinggal mengontrolnya, mengemudikannya ke arah yang sesuai dengan akal dan ilmunya. Surga dan neraka dalam hal ini adalah pilihan manusia itu sendiri sebagai hamba Allah .
Dengan meyakini qadha dan qadar Allah , lantas apakah kita harus pasrah begitu saja? Pasrah bahwa semua nasib dan perbuatan manusia telah ditentukan oleh Allah . Tidakkah kita berpikir tentang siapakah yang menakdirkan manusia itu? Siapa yang tau bahwa kita manjadi petani, pedagang, bahkan penjahat, siapa jodoh kitabagaimana rezki kita, dan lain sebagainya? Tidak ada seorang pun yang tau. Untuk itu alangkah naifnya kalau kita pasrah begitu saja. Pasrah berarti menunggu takdir, sedangkan takdir itu tidak kita ketahui. Sikap hidup ialah mencari takdirartinya berusaha dengan sekuat tenaga melalui berbagai cara yang ditunjukkan Allah  untuk menentukan nasib kita sendiri (dengan berikhtiar). Sebagaimana Allah  berfirman,

Artinya:
 “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah AllahSesungguhnya Allah  tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak dapat yang menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”(Q.S. Ar-Ra’du:11)[4]
Banyak kasus di masyarakat yang unik tentang takdir, kadang membuat sebagian orang memilih untuk menunggu takdir dibandingkan berusaha untuk memaksimalkan dalam kebaikan takdir tersebut. Misalnya, Kasus kecelakaan mobil atau motor karena ban pecah, tabrakan, rem blong, terkadang sipenderita kasus tersebut akan berkata, “Mungkin sudah takdirnya.” Padahal itu semua mengikuti aturannya. Ban pecah, bisa terjadi karena tertusuk paku atau tekanan udaranya kurang atau umur bannya sudah tua. Jadi, bukan Allah yang memecahkannya, aturan Allah lah yang membuat hal itu terjadi. Kasus kecelakaan lainnya, seperti tabrakan kereta api, pesawat jatuh, kapal tenggelam, semuanya pasti ada sebabnya, dan biasanya karena adanya sunnatullah yang dilanggar. Tapi dari itu, kita seolah-olah ditegur oleh Allah agar melakukan segala sesuatu sesuai dengan aturan dan ukuran yang telah ditetapkan.
Dalam urusan rezeki, Islam memerintahkan untuk bekerja keras. Ingin kaya, ya bekerja keras. Ingin urusan rezeki lancar, carilah jalan masuknya rezeki yang baik. Karena, biasanya, urusan rezeki ini berbanding lurus dengan besarnya usaha apa yang dikerjakan dan pada siapa kita bekerja. Harus disesuaikan tujuan dan rencana awal saat melangkah agar hasilnya jadi maksimal. Kalau misalkan sampai saatnya mati belum juga kaya, setidaknya kita sudah berusaha untuk mencari kualitas hidup yang lebih baik. Meksipun ada juga kasus-kasus datangnya rezeki dari arah yang “tidak bisa diduga”, tapi biasanya, hal tersebut juga terjadi dari usaha yang kita lakukan sebelumnya. Misalnya, kita sering menolong orang lain, atau berbuat baik kepada orang lain. Sebagai rasa terima kasih, orang yang ditolong tersebut memberikan uang atau rezeki lainnya kepada kita. Itu pun, pada dasarnya, akibat usaha kita juga.
Terakhir, untuk urusan jodoh, memang “sepenuhnya” karena keputusan Allah. Biasanya, untuk kasus jodoh ini, campur tangan Allah dirasakan sangat besar. Karena, kadang, sebesar apa pun usaha yang kita lakukan, kalau memang orang yang kita incar tidak suka, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Karena, urusan hati ini, hanya Allah saja yang bisa membolak-balikkannya, tentu saja dengan caraNya yang terkadang tidak bisa kita mengerti. Tapi, tetap saja, orang-orang yang berikhtiar lebih keras, cenderung lebih cepat mendapatkan jodohnya daripada orang-orang yang menunggu datangnya jodoh. Karenanya, kita pun harus introspeksi diri, seberapa besar usaha kita untuk mendapatkan jodoh tersebut. Atas dasar inilah sehingga penulis tertarik untuk mengambil sebuah judul “Iman pada Qadha Qadar dan Nasib Masa Depan” untuk dibahas dalam makalah ini.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, masalah yang akan diangkat dalam makalah ini adalah:
1.      Bagaimanakah hakikat iman pada qadha dan qadar?
2.      Apakah beriman kepada qadha dan qadar termasuk rukun iman?
3.      Bagaimanakah keimanan tersebut jika dikaitkan dengan kehidupan masa depan?

Minggu, 10 November 2013

Hidup adalah pilihan...

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
            “Kenapa sih sampai sekarang, aku belum bisa bahagia? Kenapa sih sampai sekarang aku belum bisa kaya? Kenapa sih sekarang aku belum juga dapat jodoh?” Ya, itulah beberapa conntoh pertanyaan yang selalu menganggap dirinya tidak bisa. Padahal, bahagia itu sederhana sja koq. Semua hal bisa menjadikan kita bahagia asalkan kita selalu memandangnya sebagai sesuatu yang membahagiakan. Kaya juga gampang yang penting kita mau bekerja keras dan mampu melihat peluang, kita bisa kaya. Apalagi jodoh, dia tidak mungkin datang begitu saja tanpa dicari, usaha dong. Tapi jangan lupa harus diiringi dengan doa, sabar, dan ikhtiar.
Hidup adalah pilihan. Ya, itu adalah kalimat yang bisa mengembalikan kita pada sifat pesimis dengan jalan yang sudah kita tempuh. Mengapa? Karena tak jarang dari kita selalu menghujat takdir yang kita terima. Padahal, siapa sih yang memulainya? Siapa sih yang memilihnya? Kita sendiri bukan? Nah, jika jawabannya sudah dikantongi, kita tak perlu menyesali semua yang sudah terjadi itu. Cukup degan berdoa dan berusaha untuk memperbaikinya, insya Allah jalan masih banyak terbentang buat yang ingin berubah. Jadi, tidak perlu menyesali diri. Berubahlah.. karena Alquran mengatakanan,

Sabtu, 08 Juni 2013

Seputaran Periapan Ramadhan...

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Hallo teman! Apa kabar hari ini? Semoga selalu baik ya! Aamiin..
Oh ya, sadar tidak kalau ternyata Ramadhan tinggal sebulan lagi? Tidak kan? Aku juga tidak sadar-sadar amat akan hal itu heheheh. Senangnya kalau bisa bersua dengannya lagi. Aku rindu, rinduuu serindu rindunyaa hohohoh,,, semoga kita semua dikarunia kesehatan yang baik, rezeki yang baik, dan ilmu yang baik untuk menjemputnya. Aamiin...
Ramadhan adalah bulan bonus yang disediakan Allah buat hambanya untuk beramal-sebanyak-banyaknya. Di bulan ini setan-setan Allah belenggu, ladang amal Allah buka lebar-lebar. Tugas kita adalah menggarap ladang itu dengan sebaik-baiknya. Aku sangat bersyukur dengan adanya bulan bonus ini. Setelah amal kita dikumpulkan dan diangkatlah dari syawal hingga syaban. Ramadhannya bonus, ingat ramadhannya bonus loh teman. Lain halnya dengan pembayaran pajak, yang dibuka dan ditutup bukunya per 31 Maret tanpa hari apalagi bulan bonus di dalamnya. Dalam hal ini berarti Allah memang mengistimewakan kita umat-Nya. Terima kasih ya Allah.

Rabu, 05 Juni 2013

Di akhirat, bersama amal saja...



Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Apa kabar semua? Jumpa lagi di hari yang cerah ini, dengan curahanku yang cerah juga tentunya heheh… Ada sesuatu yang lain yang ingin aku tulis hari ini. Bukan mengajari atau menggurui. INGAT ini hanya ceritaku, istilah kerennya curhatanku yang mungkin agak lebay eheemmm… Pengennya kalau ada sedikit manfaat yang bisa diambil, diambil ya! Kalau ada yang buruknya, jangan diambil teman. Huhhh bahaya nantinya. Okay
Lanjut cerita, ini tentang kebiasaan baik setelah solat. Guru ngajiku menganjurkan bahwa sebaiknya kita selalu membaca alquran dan memahami artinya setiap selesai salat, entah di waktu salat wajib entah salat sunah. Sebanyak yang kita mampu, satu atau dua ayat, satu atau dua lembar. Pokoknya sebanyak yang kita sanggupi. Nah, dari pengalaman itu, kemarin saat membaca surat ‘Abasa, aku sangat terkesima dengan ayat bagian akhir (34-37) yang artinya, “Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.”

Selasa, 04 Juni 2013

Maaf, Aku belum sempat membalasnnya sobat...

Assalamu'alaiku Wr. Wb.
Haiii teman, apa kabar hari ini? Apa kabar Anda saat membuka dan membaca tulisan ini? Semoga baik dan selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin... Sama seperti aku disaat menulis ini, masih dalam kondisi baik dan semangat selalu. Alhamdulillah...
Oh ya, aku mau nanya nih, pernah ga teman-teman ditinggalin sama orang yang telah baik dan peduli sama kalian? Aku pernah loh dan rasanya itu sakit dan kehilangan luar biasa hikkkssss... Sampai-sampai sedikit berkurang makanku. Tapii lagi lagi dan lagi ternyata kita tidak boleh terlalu larut dalam suasanya. Bahaya loh kalau terlalu diambil hati. Bisa kurusan dan malahan bisa jatuh sakit. Aduuuhh rugi ples ples dong kalau gitu. hikkkss...
Makanya aku mencoba untuk membuat kehilangan itu menjadi berarti. Mau tahu tipsku? Tenang aja, ni aku bakalan share ke teman-teman. Simak ya!

Senin, 03 Juni 2013

Awal Juni di MAJT (2013)

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Jalan-jalan, Traveling, Kala-kala (Muna), mlaku-mlaku (Jawa). Ya, itulah salah satu hobiku. Agak berat siih kalau punya hobi itu, tapi selagi Allah mengizinkan ya alhamdulillah bisa kita lakukan dengan atau tanpa uang banyak hehehe...
Kemarin, 1/6/2013, kebetulan aku ada di Semarang, ya sudah daripada terus larut dalam kesedihan karena gagal mengikuti salah satu tes, mending aku jalan-jalan saja. Yap, jalan-jalan menurutku bisa menjadi solusi untuk menghilangkan kemelut hati, kebosanan, bete atau apalah namanya. Ke mana saja yang penting tidak duduk diam di kamar itu sudah cukup koq. Nah, ini kemarin aku sempatin tuh jalan-jalan ke salah satu tempat menariklah buat jalan-jalan, tepatnya di Masjid Agung Jawa Tengah.
Masjid Agung Jawa Tengah atau biasa disingkat dengan MAJT ini konon sudah menjadi ikon juga di Jateng selain Lawang Sewu dan yang lainnya itu. Tempatnya lumayan luas dan indah, kalau kita naik ke menaranya kita bisa melihat pemandangan se kota Jateng. Lumayankan, bisa lihat sejuta lampu di malam hari, huuuhhhh terobati deh semuanya hehehe..

Minggu, 02 Juni 2013

Kisah Perjalanan

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Haiiii,,, Apa kabar? Baik dong pastinya heheh.. Aamiin.
Pernah ga teman-teman suka sama orang (lawan jenis) tanpa alasan? Aku pernah loh dan itu sangat luar biasa, pengennya biasa saj, tapi ga bisa, pengaruh setan kali ya heheh. Rasanya lain dan sungguh menyiksa. Pengen mengucap sesuatu saja rasanya susah, wal hasil kadang aku kira udah kelar ngomongnya, eh ternyata hanya dalam hati, kalau istilah bahasanya masih dalam konsep (parole) gitu,, ckck cukup membingungkan sih.
Tapiiii ingat teman, kalau belum saatnya, suka sih boleh-boleh saja asalkan jangan sampai berlebihan ya! Ingat dia belum muhrimmu loh, dia masih milik Allah dan kita apalagi aku belum diizinin tu sama Tuhan buat dekat-dekat sama dia. Jadi, inilah namanya perasaan yang terpendam kakakak.. Coba teman milih, mau pendam perasaan atau mau tenggelam dalam dosa? Hayooo mana kira-kira yang lebih baik? Kalau aku siih milih yang pertama. Insya Allah!
Nah, mendam perasaankan ga semudah balik telapak tangan ya, butuh kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan. Banyak cara yang bisa kita lakukan. Kata guru ngajiku, baiknya kita puasa atau memperbanyak ibadah lagi atau rajin berdoa karena kalau jodoh Allah pasti sampein tuh inginnya kita dan kalau bukan jodoh Allah pasti hilangin tuh perasaan tadi. Insya Allah, kita diberikan yang terbaik oleh Sang Maha Perencana Hidup. Tugas kita hanya berdoa dan berserah padanya.